Kalau Saja Jantungku Dapat Berteriak Keras, Sampai Menggetarkan Hidupmu
Hari ini aku berhenti untuk memburu bintang pada langit malam. Aku membencinya karena tiap kali aku mengangkat kepala, titik-titik kecil itu malah membentuk siluet wajahmu, rambutmu, hidungmu, dan matamu. Aku benci karena mereka membangkitkan kenanganku tanpa ada kamu di sebelahku. Membiarkanku terlarut dipeluk angin yang berhembus dingin.
Lapak kemah sungguh berbeda tanpa hadirmu. Kompor-kompor yang menyala tidak hangat sama sekali, lampu warna-warni yang menggantung juga tidak membantu menaikkan suhu tubuhku yang mulai membeku. Canda dan tawa yang terdengar di dalam tenda pun juga tidak semenyenangkan itu untuk aku nikmati. Bahkan mungkin mereka bisa tahu bahwa wajahku terlihat lesu dan palsu. Sampai-sampai aku memilih untuk mengasingkan diri, duduk di kursi kemahku sambil menatap langit kosong.
Walaupun kerlap-kerlip jutaan bintang di atas sana terlihat ramai, tapi tidak dapat menghancurkan tembok kesedihanku yang mengurungku bersama banyak perasaan sepi.
Aku harus apa, bulan?
Aku bahkan lupa caranya menikmati puncak gunung dengan semangat yang sama seperti waktu itu. Rasanya seperti dikelilingi oleh dementor yang menghisap habis seluruh memori baikku, menggantinya dengan kabut sendu yang menyelimutiku sampai sekarang.
Kalau saja aku bisa lebih sabar, banyak mencoba untuk mengerti, dan membiarkanmu melakukan apapun yang kamu mau waktu itu, mungkin akhirnya tidak harus seperti ini.
Bahkan mendengar perempuan menyebalkan itu mengatakan, "mana Nusanture-nya?" dengan nada sok lembut yang memekakkan telingaku waktu itu. Jantungku berteriak sangat keras yang mungkin saja kalau kamu bisa mendengarnya, rasanya dia akan menggetarkan seluruh hidupmu. Tapi aku hanya menggumam kecil dalam hati, "tahu apa kamu soal Nusanture?" sambil tidak berbicara lagi dengannya seterusnya.
Komentar
Posting Komentar