Kalau Saja Jantungku Dapat Berteriak Keras, Sampai Menggetarkan Hidupmu
Hari ini aku berhenti untuk memburu bintang pada langit malam. Aku membencinya karena tiap kali aku mengangkat kepala, titik-titik kecil itu malah membentuk siluet wajahmu, rambutmu, hidungmu, dan matamu. Aku benci karena mereka membangkitkan kenanganku tanpa ada kamu di sebelahku. Membiarkanku terlarut dipeluk angin yang berhembus dingin. Lapak kemah sungguh berbeda tanpa hadirmu. Kompor-kompor yang menyala tidak hangat sama sekali, lampu warna-warni yang menggantung juga tidak membantu menaikkan suhu tubuhku yang mulai membeku. Canda dan tawa yang terdengar di dalam tenda pun juga tidak semenyenangkan itu untuk aku nikmati. Bahkan mungkin mereka bisa tahu bahwa wajahku terlihat lesu dan palsu. Sampai-sampai aku memilih untuk mengasingkan diri, duduk di kursi kemahku sambil menatap langit kosong. Walaupun kerlap-kerlip jutaan bintang di atas sana terlihat ramai, tapi tidak dapat menghancurkan tembok kesedihanku yang mengurungku bersama banyak perasaan sepi. Aku harus apa, b...