Postingan

Kalau Saja Jantungku Dapat Berteriak Keras, Sampai Menggetarkan Hidupmu

Hari ini aku berhenti untuk memburu bintang pada langit malam. Aku membencinya karena tiap kali aku mengangkat kepala, titik-titik kecil itu malah membentuk siluet wajahmu, rambutmu, hidungmu, dan matamu. Aku benci karena mereka membangkitkan kenanganku tanpa ada kamu di sebelahku. Membiarkanku terlarut dipeluk angin yang berhembus dingin. Lapak kemah sungguh berbeda tanpa hadirmu. Kompor-kompor yang menyala tidak hangat sama sekali, lampu warna-warni yang menggantung juga tidak membantu menaikkan suhu tubuhku yang mulai membeku. Canda dan tawa yang terdengar di dalam tenda pun juga tidak semenyenangkan itu untuk aku nikmati. Bahkan mungkin mereka bisa tahu bahwa wajahku terlihat lesu dan palsu. Sampai-sampai aku memilih untuk mengasingkan diri, duduk di kursi kemahku sambil menatap langit kosong.  Walaupun kerlap-kerlip jutaan bintang di atas sana terlihat ramai, tapi tidak dapat menghancurkan tembok kesedihanku yang mengurungku bersama banyak perasaan sepi.  Aku harus apa, b...

pikiran yang terusik

jadi sebenarnya apa tujuan hidupmu? apakah untuk menikah? atau mempersiapkan diri menuju dipanggil oleh-Nya? semua orang menikah, semua kawan-kawanku dipersunting oleh kekasih hatinya, sementara aku bertanya-tanya, kapan kah giliranku datang nantinya? apakah bersama dia yang selalu ku impi-impikan itu, apakah bersama orang lain yang bahkan saat ini aku belum mengenalnya, atau bahkan apakah bersama dia yang aku membencinya? entahlah, entahlah, entahlah, aku tidak pernah tahu bagaimana pastinya, yang jelas aku selalu berdoa bahwa bersama kamu yang akan menjadi akhir ceritanya. 

the bird who left the nest

I  don't think people will tell their real reason to explain things.  someday, people ran away without detail explanation it's not because they want to, but  they don't know how to.  telling things that pented on the throats. we were five until you are four, and if you ask why maybe I will answer... because my heart is fallen. in the place and time that is should not be.  it's impossible to me to keep this weird feeling inside me, consume me, and if I stay longer, I would say that it would be toxic.  if you thought I left because of that old problem, sure you can have your own assumption. but it's not what the really reason was. that time, I know I was gonna win the war at the end, I don't even need to be worry.  but when I fall in love, I see no clear in everything. and I will become your threatment and  that's why I need to break it down. stay away from all of you. but maybe our time was out, you guys stay away from me, cut all the communication...

a monologue I wish written on the last page of my book

he doesnt need to like books as I do. it is okay if we different. what I need is him stretching out his long legs for me so I can lie on his lap while reading my favorite novel after hours wasted of hike. around us is a big beauty of sea grass, forrest breeze blowing off some of your hair. the sun is not really up there because it will set soonly as it surrounded by pretty mixed of blue, orange, and pink as we always adored. and then he starred at me with a smile on it. a gaze that I always miss it when we apart and a smile that grow all my future dreams in the depth of my heart. just it. the simple things I always want it when I spend times with him. time that I could trade with anything to have it.  a monologue I wish written on my books. 

Malam yang Singkat untuk Perjalanan Panjang

Kalau saja perasaan menggebu bisa aku rubah menjadi buku, mungkin halamannya sudah setebal satu pack tisu. Aku memang duduk di sebelahnya, menghirup aromanya, bahkan mungkin bersandar di pundaknya, tapi apakah rasa menyenangkannya sama apabila kita tidak saling menikmatinya? Memandangi bulan purnama dari kaca jendela, kepala yang saling bersandar, membuatku sadar, bahwa menjadi pilihan adalah hal yang menyakitkan, seharusnya aku tidak di sana, berada di dekatnya, memperhatikan raut mukanya, mata terpejamnya, ekspresi tidurnya, jika saja masih bukan aku yang ada di isi kepalanya, memenuhi hatinya, mengisi hari-harinya dengan obrol dan canda tawa walau tidak saling tatap muka, sebenarnya, aku sedang apa?

Sebuah Surat Kecil Untukmu

 Jika saja bicara rasa tidak pernah ada batasnya. Tentang seorang perempuan yang menyayangi kekasih hatinya yang tak pernah ia wujudkan dalam bentuk kata-kata, misalnya. Orang bilang, perempuan tak semestinya menaruh hati lebih dulu, agar tak malu nanti pada akhirnya.  Hal itu kemudian menjadi batas dalam 'merasa'.  Jika saja bicara rasa tidak pernah ada batasnya. Tentang seorang laki-laki yang menyayangi kekasihnya dari jauh pandangan mata, berpura-pura membencinya. Orang bilang, Laki-laki harus mapan untuk bisa meminang pujaan hatinya, agar dapat bahagia sang kekasih nantinya. Hal itu kemudian menjadi batas dalam 'merasa'.  Namun bisakah kita sekali saja, melupakan batasan-batasan perasaan, kemudian tak menjadi seorang pecundang?  Soal rasa, memang selalu memiliki misteri sendirinya, Soal rasa, memang tak pernah ada yang tahu bagaimana persis aturan mainnya. Namun satu yang ku tahu, sebuah rasa akan selalu berdampingan dengan batasan-batasan dan ketakutannya. ...

Mungkin Kita Akan Bertemu Lagi

 Suatu hari nanti, entah dua, tiga, atau lima tahun lagi, mungkin waktu akan memihak kita lagi. Aku dan kamu, di bawah langit biru atau abu-abu, rintik-rintik hujan atau naungan langit berbintang, kemudian kamu bertanya, "masihkah aku ada di sana? jauh di dalam relungmu yang sudah kau tutup rapat dan kunci sebelumnya" lalu tanpa bersuara, aku menatapmu lama, katanya, mata bisa memberikan banyak kata-kata dibanding harus banyak bicara, pada detik itu kamu pun mengetahuinya, bahwa tidak pernah ada manusia lainnya yang berhasil masuk ke dalamnya, apalagi menggantikannya. Pada masa itu, hari yang ku tunggu-tunggu, entah dua, tiga, atau lima tahun berlalu, di bawah langit berwarna biru atau abu, pandangan itu tetap akan menjadi doa-doaku.  ***